Malam Penuh Makna: Pagelaran Wayang Kulit Bersih Desa Kalurahan Dengok 2026
ibnu nurhuda kasendar 14 April 2026 10:39:25 WIB
DENGOK – Nuansa budaya menyelimuti Balai Kalurahan Dengok pada Senin Kliwon pukul 20.00 WIB, 13 April 2026. Dalam rangka merayakan adat tradisi Bersih Desa, Pemerintah Kalurahan Dengok menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk bersama dalang Ki Sumarno Purbo Carito. Pentas seni ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga wujud syukur dan doa seluruh warga masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kesinambungan Tradisi dan Harapan Perantau
Pentas malam tersebut terasa spesial. Dalam sambutannya, Lurah Dengok menyampaikan bahwa lakon yang dibawakan malam itu merupakan kelanjutan lakon dari momen Bersih Desa tahun 2025 silam. Hal ini menandakan adanya kesinambungan doa dan harapan yang terus dipelihara oleh pemerintah desa dan warga.
Turut hadir memberikan sambutan, Bapak Jumiyo selaku Ketua Paguyuban K3DJ. Beliau menyampaikan rasa bangganya terhadap kerukunan warga di kampung halaman. Harapannya semoga pagelaran wayang kulit malam hari ini menjadi tontonan yang ngangeni di hati warga masyarakat, sekaligus mempererat tali silaturahmi antara warga di desa maupun yang sedang di perantauan.
Kemeriahan suasana semakin memuncak saat bintang tamu Mbah Baut dan Niken S. naik ke atas panggung. Kolaborasi keduanya sukses menghidupkan suasana dengan guyonan segar dan lagu yang menghibur seluruh penonton di Balai Kalurahan.
Kilas balik Lakon: Wahyu Sekar Condro Retno
Lakon yang diangkat kali ini, Wahyu Sekar Condro Retno, membawa pesan moral yang mendalam tentang kemuliaan hidup. Cerita ini menggambarkan bahwa anugerah hidup yang mulia tidak mungkin bisa diraih hanya berdasar nafsu dan kemanjaan tanpa disertai laku prihatin.
Tokoh Duryudana, Sengkuni, dan Durna digambarkan gagal mendapatkan wahyu tersebut meski telah meminta bantuan Betari Durga dan pasukan "demit". Bahkan, Prabu Kresna yang dikenal sebagai tokoh kunci pun luput mendapatkannya karena dinilai masih menunjukkan sifat sombong saat memasuki Kayangan Batara Guru -Jonggring Saloka- tanpa menanggalkan atribut keduniawiannya.
Di akhir cerita, Wahyu Sekar Condro Retno justru memilih turun ke pangkuan Prabu Darmakusuma (Puntadewa) yang sedang laku tapa. Setelah dimaafkan oleh Ibu Kunti atas keteledorannya di masa lalu, wahyu tersebut berubah wujud menjadi Batara Kamajaya dan Dewi Kumaratih, yang kemudian memberikan benih padi serta palawija sebagai lambang kemakmuran Negara Ngamarta.
Suatu Doa untuk Kalurahan Dengok
Pementasan ini bukan sekadar tontonan. Lakon ini menjadi simbol harapan bagi warga Kalurahan Dengok agar senantiasa hidup makmur dan sejahtera. Melalui kegiatan ini, terselip doa agar Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menganugerahi Kalurahan Dengok sosok pemimpin yang berjiwa kesatria, bersih hati, dan mau menjalani laku prihatin demi kemuliaan seluruh warga masyarakatnya.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Malam Penuh Makna: Pagelaran Wayang Kulit Bersih Desa Kalurahan Dengok 2026
- Kalurahan Dengok Terapkan Sistem Kerja Fleksibel, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Terjaga
- Kalurahan Dengok Terapkan Sistem Kerja Fleksibel, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Terjaga
- Antusiasme Kader PKK Warnai Sosialisasi Rumah Pangan B2SA 2026 di Dengok
- Jadwal Bersih Desa/Rasulan Kalurahan Dengok 2026 Resmi Diumumkan
- Penyerahan SK dan Pelepasan Purna Tugas Dukuh Dengok V
- Kirab Pamong Kalurahan Dengok Nderek Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Sri Sultan Hamengkubuwana X
.jpg)
.jpg)
.jpg)














